SIKAP SEORANG MUSLIM DALAM MENGHADAPI VIRUS CORONA

A. ZAKARIA

Virus Corona adalah virus yang tengah melanda setiap negara di dunia tanpa terkecuali, baik di Asia, Eropa, Amerika, Afrika, bahkan di negara Israel sekali pun. Setiap negara sudah kewalahan dalam menghadapi Virus Corona. Ribuan orang dan puluhan dokter dan profesor telah meninggal. Sekian banyak
pejabat yang terpapar Virus Corona, demikian juga menteri dan perdana menteri bahkan pemain sepakbola pun tidak terlepas dari sasaran virus tersebut. Maka semua itu cukup mengkhawatirkan umat manusia di dunia, sementara obat penangkalnya belum ada dan belum ditemukan. Puluhan triliyun atau mungkin ratusan trilyun uang telah dikeluarkan untuk menghadapi Virus Corona yang sedang merebak ini. Maka dalam hal ini, ummat Islam mesti meyakini bahwa Virus Corona ini adalah ciptaan Allah, tidak ada dokter ataupun profesor yang dapat menciptakan Virus Corona. Para ahli saja belum dapat menjawab, apa itu Virus Corona? Dari apa diciptakannya?  Sebesar apa Virus Corona itu? Bagaimana cara pembiakannya? Dan bagaimana upaya membunuhnya? Tetapi ummat Islam jangan bersu` uzhan (berburuk sangka) kepada Allah, mengapa Allah menciptakan virus seperti ini yang merugikan dan membahayakan umat manusia. Ummat Islam tetap harus meyakini bahwa;

“…Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau
menciptakan semua ini sia-sia…” (Q.S.
Âli ‘Imrân: 191)

Tetapi tentu saja di balik semua itu
ada ‘ibrah (pelajaran) yang berharga bagi
kita semua, di antaranya:
1. Kita harus menyadari bahwa di balik
kekuasaan manusia itu ada Dzat
yang Maha Kuasa yang kuasa untuk
menentukan segala-galanya dan
tidak mungkin kekuasaanya dapat
ditolak oleh siapapun, sebagaimana
ditegaskan dalam firman-Nya:

“…dan ketahuilah bahwa kamu sekalian
itu tidak akan dapat menentang
kekuasaan Allah…” (Q.S.
al-Taubah: 2)

2. Kita semua mesti yakin, bahwa apapun
musibah yang menimpa di bumi
ini adalah kehendak Allah, se4
bagaimana dijelaskan dalam fir-man-
Nya:

“Tidak ada suatu musibah pun
yang menimpa seseorang kecuali
dengan ijin Allah; dan barangsiapa
yang beriman kepada Allah
niscaya Dia akan memberi petunjuk
kepada hatinya. Dan Allah
Maha Mengetahui segala sesuatu.”
(Q.S. al-Taghâbun: 11)
Ayat ini menegaskan bahwa apapun
musibah yang terjadi adalah atas izin
Allah, dan barangsiapa yang beriman
kepada Allah pasti Allah memberi
petunjuk kepada hatinya untuk mencari
solusinya.

3. Allah menimpakan musibah itu agar
manusia merendah diri kepada
Allah, hal ini sebagaimana ditegaskan
dalam firman-Nya:

“Dan sesungguhnya Kami telah
mengutus (rasul-rasul) kepada
umat-umat yang sebelum kamu,
kemudian Kami siksa mereka
dengan (menimpakan) kesengsaraan
dan kemelaratan, supaya
mereka memohon (kepada Allah)
dengan tunduk merendahkan
diri.” (Q.S. al-An’âm: 42)
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah
menimpakan kesulitan dan kesusahan
itu agar manusia merendah diri
kepada Allah, kembali kepada jalan
yang diridhai-Nya, jangan angkuh
dengan teknologinya dan kekuasaannya,
karena di balik itu ada Dzat yang
Maha Kuasa.
Allah menciptakan ayat-ayat Quraniyyah
dan ayat-ayat Kauniyyah agar
manusia sadar untuk mengabdi dan
berbakti kepada-Nya. Bagi orang
yang kuat imannya, dengan ayat
quraniyyah pun sudah cukup untuk
menggugah kesadarannya untuk
mengabdi dan berbakti kepada Allah,
tetapi ada juga orang yang baru tergugah
kesadarannya dengan ayat
kauniyyah, seperti dengan terjadinya
bencana tsunami, gempa bumi, angin
puting beliung, letusan gunung
merapi dan yang lainnya. Dengan
peristiwa gempa bumi saja langsung
manusia sadar untuk mengucapkan;
Lâ Ilâha Illa Allâhu atau takbir.
Ada juga orang yang dengan ayat
kauniyyah juga tidak dan belum
sadar malah menganggapnya hanya
bencana alam saja, seperti putra nabi
Nuh a.s, di saat terjadi banjir bah
yang melanda dan ketika diajak oleh
nabi Nuh untuk ikut naik perahunya,
ia menjawab;

“Anaknya menjawab: “Aku akan
mencari perlindungan ke gunung
yang dapat memeliharaku dari air
bah!…” (Q.S. Hûd: 43)
Nabi Nuh langsung menjawab:

“Nuh berkata: “Tidak ada yang
dapat menyelamatkan dirinya hari
ini dari siksa Allah …” (Q.S. Hûd:
43)
Tetapi putranya tidak mau memenuhi
ajakan ayahnya dan dia termasuk
orang yang ditenggelamkan.
Dalam hal ini Allah mengingatkan
kita dengan firman-Nya:

“Maka mengapa mereka tidak
memohon (kepada Allah) dengan
tunduk merendahkan diri ketika
datang siksaan Kami kepada
mereka, bahkan hati mereka telah
menjadi keras, dan syaitanpun
menampakkan kepada mereka kebagusan
apa yang selalu mereka
kerjakan.” (Q.S. al-An’âm: 43)
Ayat ini menggugah kita dengan ungkapan;
mengapa di saat datang siksa
kami mereka tidak merendah diri kepada
Allah bahkan bertambah keras
hati mereka dan syetan telah berhasil
menghiasi perbuatan mereka
sehingga tidak merasa bersalah.
Dan jika manusia tidak sadar dengan
peringatan dari Allah, bisa saja Allah
menimpakan bencana yang lebih
besar lagi.
Bayangkan saja kalau Allah memperpanjang
musibah Corona selama se10
tahun penuh, ekonomi pasti hancur,
keamanan pasti tidak akan terkendali
dan mungkin jutaan bahkan ratusan
juta manusia akan meninggal,
Na’ûdzu Billâhi Min Dzâlika.

4. Bertawakkallah kepada Allah di saat
mendapat kesulitan;
Di saat mendapat kesulitan Allah
telah memerintahkan kita agar bertawakkal
kepada-Nya, hal ini sebagaimana
dijelaskan dalam firman-Nya:

“Dan bertawakkallah kepada
Allah. Dan cukup Allah-lah untuk
dijadikan andalan.” (Q.S. al-
Ahzâb: 3)
Dalam ayat lain Allah berfirman:

“(Yaitu) orang-orang (yang mentaati
Allah dan Rasul) yang kepada
mereka ada orang-orang
yang mengatakan: “Sesungguhnya
manusia telah mengumpulkan
pasukan untuk menyerang kamu,
karena itu takutlah kepada mereka,
maka perkataan itu menambah
keimanan mereka dan mereka
menjawab: “Cukuplah Allah
menjadi Penolong kami dan Allah
adalah sebaik-baik Pelindung.”
(Q.S. Âli ‘Imrân: 173)
Orang-orang kafir pernah meneror
para shahabat bahwa orang-orang
kafir di Mekkah sedang mengumpulkan
pasukannya untuk membumihanguskan
Madinah, maka hendaklah
kamu takut, tetapi ancaman itu
makin menambah kuat iman mereka
dan mereka menyatakan; “Cukuplah
Allah menjamin kami dan Dia adalah
sebaik-baik yang dijadikan andalan.”
Demikian juga kita bangsa Indonesia
sedang dicekam dengan penuh rasa
ketakutan dengan merebaknya Virus
Corona, maka bertawakkallah kepada
Allah dan mohon perlindungan
kepada-Nya karena Allah-lah yang
menciptakan Corona, Allah juga yang
kuasa untuk menghilangkannya.
Jangan pernah mengatakan ‘perang’
dengan Corona karena terkesan menantang
dan menentang kekuasaan
Allah, jangan juga ‘melawan’ Corona,
tetapi marilah berlindung kepada
Allah agar kita diselamatkan dari
bahaya Virus Corona dengan berusaha
sekuat tenaga sesuai dengan
kemampuan kita.
Pernah ada seorang shahabat datang
kepada Rasulullah, kemudian Rasul
bertanya: “Naik apa kamu ke sini?” ia
menjawab: “Naik unta ya Rasulullah.”
Rasul bertanya lagi: “Dimana
unta itu?” ia menjawab: “Saya lepaskan
dan bertawakkal kepada Allah.”
Nabi SAW bersabda:

“Ikatlah dulu (untanya) baru bertawakkal
kepada Allah.”
Hadits ini menunjukkan bahwa bertawakkal
kepada Allah itu hendaklah
disertai usaha yang maksimal.

5. Yakinilah bahwa jika Allah hendak
menimpakan bencana, maka tidak
akan ada yang dapat menghilangkannya
kecuali Allah; sebagaimana
ditegaskan dalam firman-Nya:

“Jika Allah menimpakan sesuatu
kemudharatan kepadamu, maka
tidak ada yang dapat menghilangkannya
kecuali Dia. Dan jika Allah
menghendaki kebaikan bagi
kamu, maka tak ada yang dapat
menolak kurnia-Nya. Dia memberikan
kebaikan itu kepada siapa
yang dikehendaki-Nya di antara
hamba-hamba-Nya dan Dialah
Yang Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.” (Q.S. Yunus: 107)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa
jika Allah hendak menimpakan kemadharatan
atau kesusahan, maka
tiada seorang pun yang dapat menghilangkan
kesulitan itu kecuali Allah.
dan jika Allah hendak menimpakan
kebaikan, maka tiada seorang pun
yang dapat menolak karunia Allah.
Allah bisa saja menimpakan semua
itu kepada siapapun yang Dia kehendaki,
ingatlah bahwa Allah itu Maha
Pengampun dan Maha Penyayang
bukan Maha Kejam dan Maha Penzhalim.
Perkuatlah iman kita karena
kekuatan iman akan membuat kita
‘imun’ dalam menghadapi berbagai
kesulitan dan cobaan.
Janganlah takut mati
Pada umumnya manusia dengan Virus
Corona itu adalah takut mati, padahal
mati itu satu keniscayaan, tidak mungkin
dapat disegerakan atau ditangguhkan.
Bagi ummat Islam, bukan takut mati
tetapi harus takut dengan apa yang akan
terjadi setelah mati, yaitu masa hidup
yang abadi setelah mati. Apakah ia layak
mendapatkan pahala dengan memasuki
surga sebagai tempat kemikmatan yang
abadi atau dengan memasuki neraka
sebagai tempat siksaan dan penderitaan
yang abadi. Dalam hal ini Allah SWT menegaskan
dalam firman-Nya:

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan
mati. Dan sesungguhnya pada hari
kiamat sajalah disempurnakan pahalamu.
Barangsiapa dijauhkan dari
neraka dan dimasukkan ke dalam
surga, maka sungguh ia telah beruntung.
Kehidupan dunia itu tidak lain
hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”
(Q.S. Âli ‘Imrân: 185)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa:
1. Setiap jiwa (orang) pasti akan merasakan
kematian dan akan mendapatkan
imbalan pahala di hari
kiamat.
2. Barangsiapa yang dijauhkan dari api
neraka dan dimasuk-kan ke surga,
maka itulah orang yang paling beruntung.
18
3. Tetapi banyak manusia yang tertipu
dengan kehidupan dunia dan kemewahannya
serta melupakan akhirat.
Setiap manusia seharusnya mempertanyakan
dirinya; apakah kira-kira ia akan
dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke
surga? Atau ia akan;

“Dijauhkan dari surga dan dimasukkan
ke dalam neraka.”
Dalam ayat lain, Allah mengingatkan kita
dengan firman-Nya:

“Katakanlah: “Sesungguhnya kematian
yang kamu lari daripadanya,
maka sesungguhnya kematian itu
akan menemui kamu, kemudian kamu
akan dikembalikan kepada (Allah),
yang mengetahui yang ghaib dan yang
nyata, lalu Dia beritakan kepadamu
apa yang telah kamu kerjakan.” (Q.S.
al-Jumu’ah: 8)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa:
1. Kematian itu pasti akan menjemput
kamu walau kamu berusaha lari
untuk menghindarinya.
2. Kamu semua akan dikembalikan kepada
Allah, Dzat yang Maha Mengetahui
hal-hal yang ghaib dan yang
nyata.
3. Allah akan menjelaskan kepada kamu
apa yang telah kamu lakukan sejak di
dunia untuk mendapatkan balasan
dari amal perbuatannya.
Takutlah dengan Virus Syetan
Kita selalu digencarkan dengan Virus
Corona dan semua orang merasa takut
dengan bahaya virus tersebut yang setiap
hari semakin merebak di seluruh dunia.
Tetapi kadang kita lupa dan melupakan
dengan ‘virus’ yang tidak kurang membahayakan
daripada Corona, yaitu ‘Virus
Syetan’ yang jauh lebih berbahaya dari
segala macam virus yang ada di muka
bumi ini. Virus ini akan menyerang setiap
individu tanpa terkecuali bahkan terhadap
anak balita sekalipun.
Allah SWT mengingatkan kita dengan
firman-Nya:

“…dan barangsiapa yang menjadikan
syaitan sebagai qarin (pendamping)
atau corona bagi dirinya, maka
sungguh syetan itu adalah sejelek-jelek
corona.” (Q.S. al-Nisâ: 38)
Setiap orang pasti akan diserang, baik itu
pemuda atau manula, laki-laki atau
perempuan, pejabat atau rakyat, yang
sehat atau yang sakit bahkan ulama pun
menjadi sasarannya. Syetan itu selalu
berada di setiap lini dan tempat, baik di
pasar, kantor, pabrik, tempat hiburan
atau di tempat pariwisata bahkan di
mesjid dan tempat-tempat ibadah yang
lainnya, pasti hadir untuk menggoda dan
menjerumuskan manusia ke jurang kehancuran
agar rugi dunia dan akhiratnya.
Virus Syetan tidak bisa disemprot dengan
disinfektan, tidak terhalang dengan alat
pelindung diri (APD), syetan pasti bisa
menembus dimana pun kita berada,
korbannya pun sudah puluhan malah
ratusan juta orang yang terpapar dengan
Virus Syetan.
Tentu saja kita pun harus serius menghadapi
dan menangkal virus ini dan kita
pun terus diingatkan untuk selalu wajib
berlindung kepada Allah dari godaan
syetan yang dirajam.
Kekuatan Syetan
Syetan adalah musuh manusia yang
tangguh dan bisa menyerang dari setiap
arah. Syetan sebagai musuh wajar kita
perhitungkan kekuatannya, di antaranya:
1. Dilihat dari segi usia, ia telah berumur
jutaan tahun sejak Nabi Adam
sampai sekarang, dan belum ada
yang mati, dia adalah ‘jago kolot’.
2. Dilihat dari segi pengalaman, tentu
saja syetan sudah banyak pengalaman,
orang setingkat Nabi Adam dan
Siti Hawa pun pernah tergoda dengan
rayuannya, dengan Fir’aun dan Raja
Namrud pun syetan kenal dan akrab
dengan penjahat-penjahat kaliber
dunia sekalipun.
3. Dilihat dari ketekunannya, syetan
sangat tekun untuk menggoda manusia,
ia tidak pernah tidur selama
manusia bangun, dimana pun manusia
berada, pasti syetan selalu berada
dengannya.
4. Dilihat secara indrawi, syetan pasti
melihat manusia sedangkan manusia
tidak mungkin dapat melihatnya.
Bayangkan saja kalau dua petinju
dipertarungkan, yang satu melihat
dan yang satunya lagi buta, petinju
mana kira-kira yang akan menang?
Pasti petinju yang dapat melihat yang
akan menang, cukup satu ronde pun,
yang buta pasti babak belur. Demikian
juga jika dua kesebelasan bola
bertanding, yang satu dapat melihat
dan kesebelasan lainnya buta semuanya.
Tentu saja kesebelasan yang
buta pasti akan kalah dengan skor
yang sangat mencolok, bisa-bisa
skornya 100-0.
Demikian pula pertandingan manusia
vs syetan, tentu saja manusia akan
kalah, mengingat jauh tidak seimbang
kekuatannya, baik umurnya,
pengalamanna maupun indrawinya.
Lalu bagaimana solusinya? Teknisnya,
berlindung saja kepada Allah,
dimana Allah dapat melihat syetan
sedangkan syetan tidak dapat melihat
Allah, sebagaimana dijelaskan
dalam firman-Nya;

“Pandangan manapun tidak akan
dapat melihat Allah, sementara
Allah dapat melihat semua pandangan…”
(Q.S. al-An’âm: 103)
Analoginya bagaikan kita dicegat
oleh seekor anjing galak yang terus
menerus menggonggong kita, kalau
kita perhitungkan kekuatannya, suaranya
lebih keras anjing daripada
suara kita, demikian juga giginya
lebih kuat, larinya pun lebih cepat
anjing, demikian juga kulitnya.
Maka teknisnya, laporkan saja anjing
galak tersebut kepada majikannya,
kemudian dipanggilnya oleh majikannya
dan kita pasti bisa lewat dengan
aman dan selamat.
Demikian juga dalam menghadapi
godaan syetan, berlindunglah kepada
Allah demi keselamatan diri kita.
Sikap seorang muslim
Demikian juga sikap seorang muslim
dalam menghadapi Virus Corona ini, kita
dituntut untuk;
1. Bertawakkal kepada Allah dan ikhtiar
sedapat mungkin yang dapat kita
lakukan.
2. Berlindunglah kepada Allah karena
Allah-lah sebaik-baik tempat berlindung;

“Tiada tempat berlindung dan
tiada tempat keselamatan kecuali
berlindung kepada-Mu.”
3. Tingkatkanlah kualitas ketaqwaan
kita kepada Allah, baik dalam wujud
ibadah ritual ataupun ibadah sosialnya.
4. Bersabarlah jika mendapatkan musibah,
karena dengan bersabar Allah
menjanjikan akan memberikan pahala
yang besar.
5. Ingatlah bahwa musibah apapun
akan menjadi kifarat terhadap dosadosa
kita.
6. Do’akanlah saudara-saudara kita
yang sudah terpapar Virus Corona
agar lekas sembuh.
7. Ta’atilah petunjuk dan arahan dari
pemerintah untuk menjaga kebersihan
diri dan lingkungan.
8. Tentang cuci tangan, sebetulnya
ummat Islam sudah terbiasa dengan
cuci tangan karena minimalnya 10
kali cuci tangan setiap hari di luar
cuci tangan untuk makan dan setelah
makan, karena di saat mulai berwudhu
diperintahkan cuci tangan
dulu minimal satu kali sampai tiga
kali sampai pergelangan tangan dan
cuci tangan lagi di saat mencuci
tangan sampai sikut.
Ini berarti, cuci tangan 10 kali minimalnya
perhari. Demikian juga Nabi
memerintahkan untuk membersihkan
sela-sela jari dengan sabdanya:

“Sempurnakan wudhu dan selasela
di antara jari-jemari…”
Bahkan Nabi memerintahkan untuk
berkumur-kumur dan menghirup air
ke hidung kemudian mengeluarkannya
lagi.
9. Mudah-mudahan amal saudarasaudara
kita yang telah meninggal,
baik tenaga medis, dokter dan masyarakat
dapat diterima di sisi Allah
sebagai amal shaleh dan mendapatkan
tempat yang mulia di sisi-
Nya.
10. Mudah-mudahan Allah segera mencabut
ujian yang berat yang menimpa
bangsa dan negara kita ini.
11. Bantulah saudara-saudara kita yang
miskin yang telah kehilangan mata
pencahariannya selama dilanda
wabah Virus Corona ini.
12. Alhamdulillah, kita bersyukur dan
mengucapkan terima kasih kepada
pemerintah kita yang begitu sigap
dalam mengatasi wabah Virus
Corona yang melanda negeri kita
tercinta ini.
Demikianlah buku kecil ini penulis susun
sebagai wujud rasa tanggungjawab sebagai
seorang muslim dalam rangka
saling memberi washiyyat terhadap sesama
muslim lainnya. Semoga buku kecil
ini bisa bermanfaat. Teriring do’a;

“…ya Tuhan kami, kami telah menganiaya
diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak
mengampuni kami dan memberi rahmat
kepada kami, niscaya pastilah kami
termasuk orang-orang yang merugi.”
[Q.S. al-A’râf: 23]

“…Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di
dunia dan kebaikan di akhirat dan
peliharalah kami dari siksa neraka.”
[Q.S. al-Baqarah: 201]

Untuk Lebih Lengkap Silahkan
DOWNLOAD: Sikap Seorang Muslim Dalam Menghadapi Virus Corona

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *