#1 Penjelasan: Hadist Ibnu Abbas Tentang “Membolehkan Shalat Jumat Diganti Shalat Dzuhur”

HADIS IBNU ABBAS BENAR, MEMAHAMINYA KELIRU

Hadis Ibnu Abbas menjadi populer akhir-akhir ini di kalangan awam, ketika dipakai oleh sebagian orang untuk membolehkan Shalat Jumat diganti Shalat Zhuhur, yaitu hadis Ibnu Abbas yang berkata kepada Muadzdzinnya pada hari turun hujan lebat: “Shalluu Fii Buyuutikum” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dari hadis itu sebagian orang menyimpulkan bahwa Ibnu ‘Abbas tetap shalat di masjid dengan muadzdzinnya, tetapi bukan shalat Jum’at, sebab shalat Jum’at sudah diliburkan, jama’ahnya dipersilahkan shalat Zhuhur di rumah.

Sehubungan dengan kesimpulan itu perlu kami sampaikan beberapa catatan, antara lain:

Hadisnya benar tapi kesimpulannya ini tidak tepat:

(a) “Ibnu Abbas dan muadzdzinnya, tidak shalat Jum’at”

(b) sebab shalat Jum’at sudah diliburkan

Bukti Ketidaktepatannya:

(a) “Ibnu Abbas dan muadzdzinnya tidak shalat Jum’at” (asumsi)

(b) “Alasan mereka tidak shalat Jum’at sebab shalat Jum’at sudah diliburkan” (asumsi)

Asumsi itu menyalahi fakta:

(a) “Ibnu Abbas dan muadzdzinnya berada di Masjid waktu Jum’at” (fakta)

(b) “Ibnu Abbas berada di Masjid menyampaikan khutbah Jum’at” (fakta)

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ الْحَارِثِ قَالَ : خَطَبَنَا ابْنُ عَبَّاسٍ فِي يَوْمٍ ذِي رَدْغٍ فَأَمَرَ الْمُؤَذِّنَ لَمَّا بَلَغَ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ قَالَ: قُلِ الصَّلَاةُ فِي الرِّحَالِ فَنَظَرَ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ فَكَأَنَّهُمْ أَنْكَرُوا ، فَقَالَ: كَأَنَّكُمْ أَنْكَرْتُمْ هَذَا إِنَّ هَذَا فَعَلَهُ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنِّي يَعْنِي النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، إِنَّهَا عَزْمَةٌ وَإِنِّي كَرِهْتُ أَنْ أُحْرِجَكُمْ
Dari Abdullah bin Al-Harits, ia berkata, “Pada suatu hari ketika jalan penuh dengan air dan lumpur akibat hujan, Ibnu ‘Abbas hendak menyampaikan khutbah kepada kami. Saat mu’adzin mengucapkan ‘Hayya ‘Alashshalaah’ (Marilah mendirikan shalat) ia perintahkan kepadanya untuk mengucapkan: ‘Shalatlah di tempat tinggal masing-masing’. Maka orang-orang pun saling memandang satu sama lain seakan mereka mengingkarinya. Maka Ibnu ‘Abbas berkata, “Seakan kalian mengingkari masalah ini. Sesungguhnya hal yang demikian ini pernah dilakukan oleh orang yang lebih baik dariku, yakni Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan sesungguhnya itu merupakan kewajiban (‘azimah) dan aku enggan untuk menyulitkan kalian.” HR. Al-Bukhari, I: 237, No. 637

Hadis Ibnu Abbas dijadikan salah satu dalil oleh Imam Al-Bukhari dalam beristinbath hukum yang dapat dibaca melalui bab yang dibuatnya dengan judul
بَابٌ هَلْ يُصَلِّي الْإِمَامُ بِمَنْ حَضَرَ وَهَلْ يَخْطُبُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فِي الْمَطَرِ
“Bab apakah Imam Shalat bersama orang yang hadir dan apakah ia berkhutbah pada hari Jumat pada saat turun hujan”

Sehubungan dengan judul bab
بَابٌ هَلْ يُصَلِّي الْإِمَامُ بِمَنْ حَضَرَ

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkomentar:
أَيْ وُجُود الْعِلَّة الْمُرَخِّصَة لِلتَّخَلُّفِ ، فَلَوْ تَكَلَّفَ قَوْم الْحُضُور فَصَلَّى بِهِمْ الْإِمَام لَمْ يُكْرَه ، فَالْأَمْر بِالصَّلَاةِ فِي الرِّحَال عَلَى هَذَا لِلْإِبَاحَةِ لَا لِلنَّدْبِ ، وَمُطَابَقَة ذَلِكَ لِحَدِيثِ اِبْن عَبَّاس مِنْ قَوْله فِيهِ ” فَنَظَرَ بَعْضهمْ إِلَى بَعْض ” لَمَّا أَمَرَ الْمُؤَذِّن أَنْ يَقُول ” الصَّلَاة فِي الرِّحَال ” فَإِنَّهُ دَالٌّ عَلَى أَنَّ بَعْضهمْ حَضَرَ وَبَعْضهمْ لَمْ يَحْضُر وَمَعَ ذَلِكَ خَطَبَ وَصَلَّى بِمَنْ حَضَرَ
“Yaitu terdapat ‘illat yang memperbolehkan untuk meninggalkan shalat Jumat di Masjid. Sekiranya suatu kaum memaksakan hadir di masjid lalu Imam Shalat Jumat bersama mereka niscaya tidak dibenci. Atas pemaknaan demikian, maka perintah shalat Jumat di tempat sendiri menunjukan kebolehan bukan nadb (sunat), dan kesesuaian judul bab dengan hadis Ibnu Abbas terdapat pada kalimat: ‘Maka orang-orang pun saling memandang satu sama lain’ ketika ia memerintah muadzin mengatakan: ‘Shalat di tempat’ maka itu menunjukkan bahwa sebagian hadir di masjid dan sebagian lagi tidak hadir, dan bersamaan dengan itu Imam berkhutbah dan shalat Jumat bersama orang yang hadir” Fath Al-Bari, II: 495

Simak pula penjelasan para ulama Persis pendahulu terhadap maksud kalimat: Shalluu fii Buyuutikum dalam kajian keluarga besar Persis Ciamis Edisi online hari ini Kamis 2 April 2020 Pukul 16.00 WIB (Live FB Sigabah)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *